Oleh: Andria Fatkhurrohman Amri
Konyol dan lucu ketika melihat sebuah GEMBOK, seonggok besi -yang anehnya- bisa memainkan bermacam-macam fungsi; bisa untuk mengunci pagar (sebagai fungsi utama), bisa untuk menimpuk maling, menimpuk tikus dan lain-lain.
GEMBOK terdiri dari dua besi utama, besi kotak sebagai induk dan besi bentuk setengah lingkaran sebagai anak kunci. Itu menurut saya, bagaimana dengan anda? Begitu pula kunci pembukanya, ada yang ber bentuk mirip gergaji dan ada juga yang menggunakan kode angka.
Kini, yang namanya GEMBOK sekarang mendapat kedudukan “nikmat” sebagai pengaman (disamping KONDOM n alat kontrasepai lainya) perempuan walo cuma diluar ( tanpa nyentuh onggokan daging ). Sekarang lagi marak di sebuah kota di Jawa Timur, sebut saja Malang (namasamaran) , di mana GEMBOK berperan penting sebagai pengaman “keperawanan”
Pernah dengar “pijat gembok”? Apakah ini berarti dipijat dengan GEMBOK atau beguling-guling di atas GEMBOK? Dalam pijat GEMBOK, -katanya- si perempuan panti pijat mengamankan “barangnya” dengan cara mengGEMBOK celana (blm tahu juga, celana dalam atau celana luarnya). Tidak hanya celana yang diamankan dengan GEMBOK, tapi juga tempat-tempat sensitive dari keturunan HAWA ini juga tak luput dari pengGEMBOKan.
Pertanyaan nya adalah apa tidak ada alternatif selain GEMBOK? Banyak permasalahan dari “GEMBOK” baru ini.
Kita tahu bermacam-macam cara pemerintah dilakukan untuk memberantas praktek prostitusi dan segala macam hal yang berbau porno di atas muka bumi Indonesia ini dengan mengatasnamakan “penyelamatan moralitas generasi”. Mulai dari pemblokiran situs-situs porno, dicekalnya pedangdut y
Yang memamerkan sensualitas, grebekan hotel-hotel, grebekan kos-kosan, grebekan panti pijat dan banyak aksi pemerintah perang terhadap “mesumisme”. Itulah peliknya dunia sekarang.
Memang, perempuan tidak bisa di lepaskan dari pandangan negative masyarakat. Menurut Aristoteles, “perempuan adalah manusia yang belum jadi dan tertahan dalam perkembangan tingkat bawah”. Di jaman Jahiliyah, memiliki anak perempuan merupakan aib,sehingga wajib dibunuh namun seiring jaman, telah berlalu itu semua.
Lepas dari itu semua, dalam hal GEMBOK ini seakan perempuan kembali menjadi tersangka utama. Menurut menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, kebijakan tersebut melecehkan kaum perempuan. “Teknologi kan sudah maju, kalau perlu disediakan CCTV saja, bukan dengan cara GEMBOK seperti itu” (Kompas, edisi Jatim, 10/04/2008).
Terus siapa yang perlu disalahkan: GEMBOK, perempuan, laki-laki,pemilik panti (kapitalis) atau pemeritah? Extremnya lagi, perlukah kita menyalahkan Tuhan?
Sebenarnya perempuan tidak harus di pandang sebagai pihak yang disalahkan, masih banyak lagi cara-cara yang bisa dilakukan pemerintah dan masyarakat guna mengatasi bentuk-bentuk prostitusi terselubung, misalnya dengan menggunakan CCTV yang dipasang di setiap kamar atau tirai plastik
transparan atau semi transparan di setiap kamar pijat, melakukan razia ketempat panti-panti pijat berizin maupun tidak berizin.
Di lain sisi ini adalah lemahnya moral tiap individunya, walaupun ada GEMBOK jika moral si pemijat dan si pasien yang dipijat hancur, ya banyak jalan untuk “ berbuat”. “Banyak jalan menuju Roma”, “Banyak jalan menuju ke”nikmatan” “. Misalnya, kalau yang dipijat ternyata ahli kunci, apa tidak jebol itu GEMBOK plus yang diamankan?
Selain rendah dan rusaknya moral, juga kemiskinan dan rendahnyapendidikan menjadi penyebab GEMBOK naik strata. Lalu bagaimana GEMBOK dalam pandangan anda?