Keluarga Besar Retorika

Selamat Kepada Komang

February 20, 2009 · Leave a Comment

Wahyu Komang,  Mantan PU LPM Retorika terpilih menjadi ketua AJI Jakarta untuk  kepengurusan mendatang.

 AJI Jakarta Pilih Ketua dan Sekretaris Baru Jakarta, 7 Februari 2009, Konferensi Kota VI Aliansi Jurnalis Independen Jakarta menetapkan Wahyu Dhyatmika dan Umar Idris sebagai pasangan ketua dan Sekretaris AJI Jakarta untuk periode kepengurusan 2009-2012.

Pasangan ini menggantikan duet Jajang Jamaludin dan Margiyono yang telah mengemban tugas sebagai pimpinan organisasi pada 2006-2009. Lebih dari 70 anggota AJI Jakarta memilih pasangan itu secara aklamasi.

Wahyu yang akrab dipanggil Komang ini adalah jurnalis Majalah Tempo. Karir jurnalistiknya mulai terasah ketika ia bekerja sebagai koresponden Tempo untuk wilayah Surabaya. Dalam periode kepengurusan sebelumnya, Alumni program MA Journalism di University of Westminster, Inggris, adalah koordinator Divisi Organisasi AJI Jakarta. Adapun pasangan Komang, Umar Idris, adalah redaktur Mingguan Kontan. Alumni Universitas Indonesia ini sebelumnya adalah koordinator Divisi Advokasi AJI Jakarta.

Dalam kata sambutannya, Komang berjanji akan menjalankan Pokok-pokok Program Kerja sebagaimana diamanatkan konferensi. Beberapa diantaranya adalah peningkatan jumlah dan kapasitas profesionalitas anggota, mendorong keberadaan serikat pekerja di berbagai media, dan memberikan bantuan advokasi bagi kasus-kasus kekerasan yang dialami oleh para jurnalis.

“Tugas ini memang berat. Tapi akan terasa ringan jika rekan-rekan ikut mendukung pelaksanaan program tersebut,” kata Komang. Sementara, Sekretaris AJI Jakarta terpilih, Umar Idris, akan memberikan perhatian pada penambahan anggota AJI Jakarta. “Saya optimis, akan Bisa Meningkatkan jumlah anggota AJI sebanyak 100% dalam 3 tahun mendatang,” kata Umar.

→ Leave a CommentCategories: greeting
Tagged:

Stay Tune for Upcoming Retorika Portal

December 3, 2008 · Leave a Comment

Halo pembaca setia,

Beribu maaf untuk update yang terkesan macet. Kesibukan terkadang memang tidak mengenal toleransi dan komitmen. Namun arah perjalanan media online sederhana ini masih diharapkan keberlangsungannya. Karena itu, meski tidak ada berita baru atau cerita apapun yang bisa di-share di sini, kami tak henti berupaya  mencari usaha agar keberlangsungan hubungan online diantara kita masih bisa terakomodasi.

Currently, Beberapa kawan LPM Retorika baik yang masih aktif maupun sudah alumni sedang merencanakan portal lebih baik bagi aktualisasi kita di dunia maya. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

→ Leave a CommentCategories: nggerundel
Tagged:

Quote of the day

July 10, 2008 · Leave a Comment

Bagiku hidup adalah proses, tiap detik kita bernafas adalah tahapan yang tidak harus sebuah tingkatan, maka tidak ada tuntutan kecuali dari diri kita sendiri.Karena pemegang kuasa tertinggi atas diri kita harusnya kita sendiri bukan? Tapi, kadang lingkungan, masyarakat, budaya, keluarga, stigma sosial mengambil alih semua kuasa itu bahkan kuasa Tuhan, sebab menjadi sebuah kelazim-an. Ada tuntutan-tuntutan, pada tiap tahap kehidupan kita yang dikonstruksikan, dan kadang ‘hukuman’nya lebih ‘menakutkan’ dari pada ‘hukuman’ Tuhan itu sendiri. Karena aku yakin, Tuhan masih mempertimbangkan sebuah argumentasi atas sebuah tindakan, apalagi dengan 99 sifatnya itu.Tetapi lingkungan?? ?

Nur Lailiyah

→ Leave a CommentCategories: Quote · nyangkem

Quote of the day

June 30, 2008 · Leave a Comment

Dianc*k 

*)

by Munib

*)Mohon maaf bila ada yang tak suka kata ini. Saya menggunakannya
bukan dalam konteks caci-maki atau kemarahan, tapi keakraban yang
dalam dan tulus.

→ Leave a CommentCategories: Quote · nyangkem

Bagaimana menulis halaman “About Me”

June 13, 2008 · Leave a Comment

Ketika seseorang baru pertama kali mengunjungi suatu blog, kebiasaan pertama kali melihat siapa pemilik blog itu. Lalu meluncurlah mereka ke halaman “About Me”. Halaman ini menjadi krusial dan penting sekali untuk menunjukkan keseriusan sebuah blog.

Problogger menulis “About Me” sebagai sebuah halaman untuk menjawab pertanyaan:

  1. who you are…
  2. your expertise and how it addresses…
  3. their problem or goal, and how they can…
  4. contact you

Sang blogger sukses mencontohkan seperti ini:

Hi, I’m Jane Smith and I write TransitionMomBlog (who Jane is) to help women make the transition from full-time mom to successful entrepreneur (the reader’s problem or goal). I started TransitionMomBlog in 2004 (Jane’s expertise – shows she has been blogging for two years) to help other women deal with the sometimes overwhelming prospect of starting a new business while still running a household (how Jane helps them overcome their problem or achieve their goal). Prior to raising my family, I spent over ten years as a teacher, corporate trainer and workshop leader (Jane’s expertise, both as a mom and a business person). To contact me, please email XXX (how to contact Jane).

Namun ternyata ada sebuah contoh halaman about yang cukup enak dibaca dan lebih berselera seni serta cukup simpel. Inilah halaman “About Me” itu:

Saya Ribut Wijoto. Ditakdirkan sebagai anggota Teater Gapus dan anggota Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar Surabaya. Pernah suatu kali, saya kuliah. Di Sastra Indonesia Unair. Dan anehnya, saya lulus.

 

→ Leave a CommentCategories: nyangkem

Dangdut, Kenestapaan dan Seks

June 13, 2008 · 2 Comments

*Emon

Masalah ini sebenarnya sudah agak lama pernah aku pikirkan. Tapi kemudian lupa. Juga banyak orang mungkin telah melupakannya. Kalau musik dangdut itu, untuk lirik-liriknya punya kecenderungan mengedepankan kesengasaraan dan kenestapaan. Yang dilandasi oleh kemiskinan dari penyanyinya. Atau kenestapaan hati sang penyanyi karena ditinggal kekasihnya kabur dengan orang lain. Misalkan saja, lirik-lirik lagu Hamdan ATT, Orang Termiskin di Dunia. Ini liriknya…

“Jangankan gedung, gubugpun aku tak punya. Jangankan permata, uangpun aku tiada. “

Itu lagu dangdut era-era agak dulu. Penyanyi dangdut banyak didominasi oleh penyanyi lelaki seperti Maggie Z, Imam S. Arifin, Hamdan ATT, A. RAfiq. Kalau yang perempuan ada Ine Cyntya, Rita Soegiarto. Untuk para perempuannya, tidak terlalu seksi.

Kalau era dangdut sekarang, banyak didominasi oleh para penyanyi perempuan. Ada Dewi Persik, Anissa Bahar, Inul, Trio Macan, dan baru-baru ini muncullah Julia Perez a.k.a JUPE. Tidak usah dijelaskan, karena mereka lebih menonjolkan unsur seksi. Baik lewat lirik-lirik lagunya, dandanan ataupun goyangan. Unsur-unsur yang bisa membuat jakun laki-laki naik dan turun. Kalau penyanyi lelaki ya si Didi Kempot, dengan lagu-lagu bertemakan penantian panjang dan kesetiaan. Seperti Sewu Kutho, Sri, Stasiun Balapan, etc.

Oh ya, tentang Dangdut, satu orang yang agak terlupakan. Rhoma Irama. Yang menurut Andrea Hirata, bagai seorang yang akan membasmi kemaksiatan di muka bumi. Dengan gitarnya itu. Tentu kitapun akan ingat dengan perannya sebagai Rhoma – Si Satria Bergitar – dengan Band Soneta-nya. Rhoma yang memproklamirkan diri sebagai Raja Dangdut. Yang bangga disebut dengan Wak Haji Rhoma Irama, dan berperan seolah-olah sebagai polisi dunia perdangdutan Indonesia. Sehingga banyak-banyak mengkritik Inul sementara dirinya sendiri entah nikah sirri atau kumpul kebo dengan Angel Lelga tapi tidak mengakuinya.

Terlepas dari siapa yang menguasai mahzab perdangdutan di negeri ini, musik ini akan selalu ada.  Selalu menjadi bagian dari musik rakyat. Ya lirik-liriknya yang tidak di awang-awang meskipun kadang agak hiperbola, yang bisa membuat penonton lelaki goyang, dengan jakun naik turun, darahnya mendidih dengan lebih cepat. Dan, membuat mereka berfantasi…..tentu saja, tidak berfantasi bersama dengan istri-istri mereka. Tapi, dengan orang seperti Dewi Persik…

→ 2 CommentsCategories: Kearifan
Tagged: ,

Aroma kopi

June 12, 2008 · Leave a Comment

Tanpa harus meminum kopi pun, aromanya saja sudah cukup membuat kita terbangun. Inilah penelitian terkini yang sudah dilakukan oleh beberapa peneliti dari the National Institute of Advanced Industrial Science and Technology Jepang. Memang masih dalam tahap percobaan. Namun 30 ekor tikus yang dijadikan penelitian menunjukkan kunci untuk menghidupkan kembali kekuatan aroma kopi.

Penemuan ini menyarankan pengusaha untuk memompakan aroma kopi ke dalam tempat kerja agar karyawan senantiasa bersemangat. Itu jika mereka kebetulan sedang tidak bisa ngopi. Aroma kopi akan menjadi hal yang cukup membantu bagi mereka yang bukan coffee lover. Cukup lah berdekatan dengan peminum kopi, maka ngantuk pun hilang.

—-

Sumber bacaan: http://www.telegraph.co.uk/news/newstopics/howaboutthat/2111723/Coffee-aroma-alone-’enough-to-wake-up’.html

→ Leave a CommentCategories: ngopi
Tagged:

Becames a real coffee lover

June 12, 2008 · Leave a Comment

Nowadays, coffee has become popular not only as a drink but also as lifestyle. There are many tips how to make a good coffee. Matt Nikkel, coffee aficionado shared some tips that exellent coffee starts with basics. He has some key elements to a great cup of coffee which is can make us become good coffee lover:

  1. Always use cold and fresh water. The fact is that great coffee beans and run well water just not ebough. What we notice is that a cup of coffee is composed of about 98.5 percent water so great water will be great for coffee.
  2. Use only fresh and high-quality beans which is 14 days long after they’re roasted. Don`t worry if we have to pay more for fresh beans. It`s valuable.
  3. Good grinder. It is ideal to have a grinder that is very consistent in its grinding ability. 
  4. When boiling water, make sure it`s come with correct temperature. The reason is to extract the best taste from your ground coffee, the water needs to be hot. Make it in between 194 F and 204 F. Many home coffee brewers about 30 degrees too cool.

Some people said real coffee lover should drink coffee just as it. No whitening or even sweetening because they can influences the basic taste of coffee. Some people think that adding another condiment is just pollution with cream as pollutant no 1.

Source: Hartanto

→ Leave a CommentCategories: ngopi

Gembok naik strata

April 19, 2008 · Leave a Comment

Oleh: Andria Fatkhurrohman Amri

Konyol dan lucu ketika melihat sebuah GEMBOK, seonggok besi -yang anehnya- bisa memainkan bermacam-macam fungsi; bisa untuk mengunci pagar (sebagai fungsi utama), bisa untuk menimpuk maling, menimpuk tikus dan lain-lain.

GEMBOK terdiri dari dua besi utama, besi kotak sebagai induk dan besi bentuk setengah lingkaran sebagai anak kunci. Itu menurut saya, bagaimana dengan anda? Begitu pula kunci pembukanya, ada yang ber bentuk mirip gergaji dan ada juga yang menggunakan kode angka.

Kini, yang namanya GEMBOK sekarang mendapat kedudukan “nikmat” sebagai pengaman (disamping KONDOM n alat kontrasepai lainya) perempuan walo cuma diluar ( tanpa nyentuh onggokan daging ). Sekarang lagi marak di sebuah kota di Jawa Timur, sebut saja Malang (namasamaran) , di mana GEMBOK berperan penting sebagai pengaman “keperawanan”

Pernah dengar “pijat gembok”? Apakah ini berarti dipijat dengan GEMBOK atau beguling-guling di atas GEMBOK? Dalam pijat GEMBOK, -katanya- si perempuan panti pijat mengamankan “barangnya” dengan cara mengGEMBOK celana (blm tahu juga, celana dalam atau celana luarnya). Tidak hanya celana yang diamankan dengan GEMBOK, tapi juga tempat-tempat sensitive dari keturunan HAWA ini juga tak luput dari pengGEMBOKan.

Pertanyaan nya adalah apa tidak ada alternatif selain GEMBOK? Banyak permasalahan dari “GEMBOK” baru ini.

Kita tahu bermacam-macam cara pemerintah dilakukan untuk memberantas praktek prostitusi dan segala macam hal yang berbau porno di atas muka bumi Indonesia ini dengan mengatasnamakan “penyelamatan moralitas generasi”. Mulai dari pemblokiran situs-situs porno, dicekalnya pedangdut y

Yang memamerkan sensualitas, grebekan hotel-hotel, grebekan kos-kosan, grebekan panti pijat dan banyak aksi pemerintah perang terhadap “mesumisme”. Itulah peliknya dunia sekarang.

Memang, perempuan tidak bisa di lepaskan dari pandangan negative masyarakat. Menurut Aristoteles, “perempuan adalah manusia yang belum jadi dan tertahan dalam perkembangan tingkat bawah”. Di jaman Jahiliyah, memiliki anak perempuan merupakan aib,sehingga wajib dibunuh namun seiring jaman, telah berlalu itu semua.

Lepas dari itu semua, dalam hal GEMBOK ini seakan perempuan kembali menjadi tersangka utama. Menurut menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, kebijakan tersebut melecehkan kaum perempuan. “Teknologi kan sudah maju, kalau perlu disediakan CCTV saja, bukan dengan cara GEMBOK seperti itu” (Kompas, edisi Jatim, 10/04/2008).

Terus siapa yang perlu disalahkan: GEMBOK, perempuan, laki-laki,pemilik panti (kapitalis) atau pemeritah? Extremnya lagi, perlukah kita menyalahkan Tuhan?

Sebenarnya perempuan tidak harus di pandang sebagai pihak yang disalahkan, masih banyak lagi cara-cara yang bisa dilakukan pemerintah dan masyarakat guna mengatasi bentuk-bentuk prostitusi terselubung, misalnya dengan menggunakan CCTV yang dipasang di setiap kamar atau tirai plastik

transparan atau semi transparan di setiap kamar pijat, melakukan razia ketempat panti-panti pijat berizin maupun tidak berizin.

Di lain sisi ini adalah lemahnya moral tiap individunya, walaupun ada GEMBOK jika moral si pemijat dan si pasien yang dipijat hancur, ya banyak jalan untuk “ berbuat”. “Banyak jalan menuju Roma”, “Banyak jalan menuju ke”nikmatan” “. Misalnya, kalau yang dipijat ternyata ahli kunci, apa tidak jebol itu GEMBOK plus yang diamankan?

Selain rendah dan rusaknya moral, juga kemiskinan dan rendahnyapendidikan menjadi penyebab GEMBOK naik strata. Lalu bagaimana GEMBOK dalam pandangan anda?

→ Leave a CommentCategories: nggerundel

Selamat dan Sukses

March 29, 2008 · Leave a Comment

Keluarga besar blog Cangkeman mengucapkan selamat atas diadakannya Pelatihan Jurnalistik (Pelat-Jur) Tingkat Lanjut se-Surabaya, yang diselenggarakan oleh LPM Retorika FISIP Unair pada Sabtu-Minggu, 29-30 Maret 2008 dengan materi dan pembicara sebagai berikut:

  • Diskusi tentang Civil Journalism era blogging (Dwi Eko Lokononto, Pimred Beritajatim. com)
  • Penjelasan Kode Etik Jurnalistik (Yopie, Pimred Kontan)
  • Materi Pengantar Jurnalisme Investigasi (Wahyu Komang Dhyatmika, Jurnalis Tempo Jakarta)
  • Materi dan Pelatihan Menulis Feature (Kris R. Mada, Jurnalis Kompas Jatim)
  • Materi Manajemen Pers Kampus (Munib Rofiqi, Redaktur Duta Masyarakat)
  • Materi Pengantar Jurnalisme Sastrawi (Maria Hasugian, Redaktur Hukum Tempo Jakarta)
  • Materi Advokasi Pers (Iman D. Nugroho, jurnalis The Jakarta Post)


→ Leave a CommentCategories: event

Quote

March 29, 2008 · Leave a Comment

Dont walk too fast. It makes your feet too tired. Dont walk too slow. The night might fall. Just walk, inhale good air, drink cup of coffee and enjoy life

emon

→ Leave a CommentCategories: Quote