Keluarga Besar Retorika

Tentang Norwegian Wood

December 16, 2007 · Leave a Comment

*Hariatni Novitasari (Emon)

Buku itu seperti telah mengeluarkan habis semua isi di kepalaku. Mencuci habis otakku. Novel itu membuat semuanya menjadi sangat muram. Kadang juga menjadi sangat miris. Hampir semua tokohnya mati, bunuh diri.
-seorang teman, di pojok TIM-

Novel itu mampu menggambarkan apa yang terjadi dengan jamannya. Ya konteks sosialnya. Setting. Bahkan tren lagu.
-juga seorang teman, lewat chatting di YM-

Otakku barangkali juga telah tercuci habis dengan novel itu. Aku telah merasakan bahwa tulisan Murakami itu tidak hanya sekedar tulisan. Sebuah novel. Tetapi mampu masuk ke dalam relung-relung diriku sehinga aku merasakan bahwa tokoh-tokoh yang ada di dalam novel itu benar-benar hidup.

Seorang gadis berandal bernama Midori. Seorang perempuan yang suka minum sake di siang hari, tetapi juga merupakan seorang perempuan yang baik hati, dan pandai memasak. Dari dialah, Watanabe bisa merasakan cinta itu hidup. Mencintai Midori, menjadikan cinta itu hidup. Cinta seakan bisa berjalan dan berlari.

Seorang Watanabe, orang yang akan mengalami banyak pengalaman mengenai adegan bunuh diri orang-orang terdekatnya. Sahabatnya, Kizuki. Mantan kekasih Kizuki yang kemudian menjadi kekasihnya, Naoko. Hatsumi San, pacar Nagawasawa. Merekas adalah para kamikaze era 70-an. Bersama Naoko, Watanabe merasakan dunia yang bukan dunianya. Seakan dia hidup di dunia yang lain. Dunia orang mati. Naoko adalah orang yang sangat menyukai lagu Beatles, Norwegian Wood.

Lalu, ada Reiko San. Seorang pemain piano dan guru musik. Yang karena satu peristiwa harus menghuni rumah sakit jiwa, Mon Ami. Dia kemudian menjadi sahabat baik Naoko dan Watanabe. Reiko San bisa menjadi gramophon. Memetik gitar dan menyanyikan lagu sampai berpuluh-puluh banyaknya. Termasuk upacara pemakaman yang tidak hening bagi Naoko. 51 lagu!Dia paling sering memainkan Norwegian Wood. Karena itulah lagu yang disukai oleh Naoko.

Masih ada juga sosok Nagasawa San ataupun si Kopasgat.

Kalau lama tidak membaca novel itu, rasanya ada yang tidak lengkap dan aku menjadi merindukan membaca novel itu. Dengan membaca novel itu, barangkali memiliki andil yang besar dalam mengubah kebiasaan minum kopi. Bahwa kopi lebih enak diminum pada tengah hari bolong. Kalau malam, membaca NW lebih enak dengan menyesap Sparkling. Buku itu sudah sangat lecek. Tapi,aku tetap membacanya. Barangkali seperti Ikal yang membaca Seandainya……. karya Herriot, yang bercerita tentang sebuah desa di Inggris bernama Edensor.

Categories: resensi buku

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment