*Emon
Masalah ini sebenarnya sudah agak lama pernah aku pikirkan. Tapi kemudian lupa. Juga banyak orang mungkin telah melupakannya. Kalau musik dangdut itu, untuk lirik-liriknya punya kecenderungan mengedepankan kesengasaraan dan kenestapaan. Yang dilandasi oleh kemiskinan dari penyanyinya. Atau kenestapaan hati sang penyanyi karena ditinggal kekasihnya kabur dengan orang lain. Misalkan saja, lirik-lirik lagu Hamdan ATT, Orang Termiskin di Dunia. Ini liriknya…
“Jangankan gedung, gubugpun aku tak punya. Jangankan permata, uangpun aku tiada. “
Itu lagu dangdut era-era agak dulu. Penyanyi dangdut banyak didominasi oleh penyanyi lelaki seperti Maggie Z, Imam S. Arifin, Hamdan ATT, A. RAfiq. Kalau yang perempuan ada Ine Cyntya, Rita Soegiarto. Untuk para perempuannya, tidak terlalu seksi.
Kalau era dangdut sekarang, banyak didominasi oleh para penyanyi perempuan. Ada Dewi Persik, Anissa Bahar, Inul, Trio Macan, dan baru-baru ini muncullah Julia Perez a.k.a JUPE. Tidak usah dijelaskan, karena mereka lebih menonjolkan unsur seksi. Baik lewat lirik-lirik lagunya, dandanan ataupun goyangan. Unsur-unsur yang bisa membuat jakun laki-laki naik dan turun. Kalau penyanyi lelaki ya si Didi Kempot, dengan lagu-lagu bertemakan penantian panjang dan kesetiaan. Seperti Sewu Kutho, Sri, Stasiun Balapan, etc.
Oh ya, tentang Dangdut, satu orang yang agak terlupakan. Rhoma Irama. Yang menurut Andrea Hirata, bagai seorang yang akan membasmi kemaksiatan di muka bumi. Dengan gitarnya itu. Tentu kitapun akan ingat dengan perannya sebagai Rhoma – Si Satria Bergitar – dengan Band Soneta-nya. Rhoma yang memproklamirkan diri sebagai Raja Dangdut. Yang bangga disebut dengan Wak Haji Rhoma Irama, dan berperan seolah-olah sebagai polisi dunia perdangdutan Indonesia. Sehingga banyak-banyak mengkritik Inul sementara dirinya sendiri entah nikah sirri atau kumpul kebo dengan Angel Lelga tapi tidak mengakuinya.
Terlepas dari siapa yang menguasai mahzab perdangdutan di negeri ini, musik ini akan selalu ada. Selalu menjadi bagian dari musik rakyat. Ya lirik-liriknya yang tidak di awang-awang meskipun kadang agak hiperbola, yang bisa membuat penonton lelaki goyang, dengan jakun naik turun, darahnya mendidih dengan lebih cepat. Dan, membuat mereka berfantasi…..tentu saja, tidak berfantasi bersama dengan istri-istri mereka. Tapi, dengan orang seperti Dewi Persik…
2 responses so far ↓
Didiek // December 10, 2008 at 5:23 am
aku suka istilah polisi dunia perdangdutan indonesia..
shahil // January 12, 2009 at 3:19 pm
Salam hormat buat anda mahasiswa semua.
Ya benar kata anda bahawa dangdut mempunyai lirik lagi dan aksi tubuh yang menyebabkan nafas lelaki turun naik. Masakan dapat dinafikan…
Saya, walaupun dari Malaysia masih dapat menikmati VCD dangdut ini kerana ia berlambak di pasaran Malaysia.
Dangdut zaman ini kelihatannya berlainan dengan dangdut zaman Ahmad Albar dan Elvy Sukasih. Dangdut mereka kelihatan agak tidak keterlauan.
Namun dangdut sekarang bermodalkan hanya goyang punggung. Lihatlah Inul, tidak cukup dengan goyangan maka harus dipakaikan pakaian nipis dan ketat di bahagian punggung. Dan apabila bergoyang sengaja dihalakan ke muka penonton terutama lelaki.
Sudah dua kali konsert Inud dibatalkan disaat-saat akhir. Inul dikatakan pengsan. Dan ia berkata “pembatalan ini mungkin dugaan Tuhan kepada saya”. Aneh-aneh, dikatakan dugaan Tuhan bagi menggoyangkan punggungnya di muka penonton.
inilah Inul dan dangdutnya…
Salam hormat.
http://www.shahil.wordpress.com